TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DAN SEAGAMA

Standard

  1. A. Ayat-Ayat Tentang Toleransi

QS. Al-Kafirun : 1-6

1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. 6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Tafsir Al-Qur’an Kontemporer I karangan Aam Amiruddin:

Ayat 1. Yang dimaksud dengan “kafir” pada ayat 1, berasal dari kata “kufur”, artinya menutupi kebenaran, melanggar kebenaran yang telah diketahui, dan tidak berterima kasih. Kata “kafir” dan kata jadinya disebutkan 525 kali dalam Al-Qur’an. Semuanya mengacu pada perbuatan mengingkari Allah swt., seperti mengingkari nikmat-nikmat Allah, membangkang hokum-hukum Allah, meninggalkan perintah Allah yang telah diperintahkan.

Istilah “kafir” dalam pengertian terakhir ini, pertama kali digunakan dalam Al-Qur’an untuk menyebut para kafir Makkah (hlm. 83). Jadi, orang kafir yaitu mereka yang menolak, menentang, mendustakan, mengingkari, dan bahkan anti kebenaran. Seorang disebut kafir apabila melihat sinar kebenaran maka ia memejamkan matanya. Apabila mendengar ajakan kebenaran, ia menutup telinganya. Ia tidak mau mempertimbangkan dalil apapun yang disampaikan padanya dan tidak bersedia tunduk pada sebuah argument meski telah mengusik nuraninya.

Konsekuensi kafir ditegaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, antara lain dinyatakan:

  1. Orang kafir akan mendapatkan azab yang keras di dunia dan akhirat
  2. Orang kafir akan memperoleh kehinaan di dunia dan akhirat
  3. Amal orang kafir akan gugur dan sia-sia

Ayat 2. Ayat ini dimulai dengan kata “laa” yang bermakna “tidak”. Kata ini digunakan untuk menafikan atau menolak sesuatu akan terjadi. Sedangkan kata “a’budu” yang biasa diartikan “menyembah, taat, dn tunduk” secara gramatikal menggunakan bentuk mudhari’. Jadi, penggunaan kata laa a’budu merupakan penegasan bahwa sekarang dan pada masa yang akan dating kita tidak akan menyembah, tunduk dan patuh pada apapun selain Allah.

Ini penegasan bahwa Islam mengharamkan umatnya untuk mencampuradukkan keimanan dan ritual Islam dengan agama manapun, apapun dalihnya.

Kita sering terperangkap dengan jebakan “toleransi antar umat beragama”, yang diartikan dengan mencampuradukkan ritual keagamaan. Bila kaum Nasrani natalan, kitapun dianjurkan mengikutinya. Padahal sikap ini merupakan pengkhianatan terhadap keimanan dan ritual kita.

Makna toleransi yang sebenarnya bukanlah mencampuadukkan keimanan dan ritual Islam dengan agama non Islam, tapi menghargai eksistensi agama orang lain. Kita tidak dilarang melakukan kerjasama dengan non muslim dalam hal-hal yang berkaitan dnegan hal-hal dunia, misalnya hubungan bisnis ataupun studi. Bahkan ada ayat yang memerintahkan agar kita berlaku adil kepada siapa pun, termasuk kepada non muslim. Yakni dalam QS. Al-Maidah : 8

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Jadi, saat berinteraksi dengan non muslim, prinsip-prinsip toleransi, keadilan, dan kebenaran harus kita tegakkan. Namun untuk urusan yang berkaitan dengan kayakinan dan peribadatan, kita mengambil garis yang jelas dan tegas.

Ayat 3. Ayat ini menjelaskan tentang sikap toleransi yang paling murni. Kita tidak menginginkan umat Nasrani, Hindu dan Budha mengikuti dan melaksanakan ajaran Islam seperti shalat Idul Fitri atau shalat Jum’at. Kita pun diharamkan mnegikuti ritual dan keyakinan mereka, seperti Natalan, Ngaben, atau pembaptisan.

Ayat 4 dan 5. Ayat ini mengandung makna bahwa aku tidak akan pernah beribadah seperti ibadahmu dan kamu pun tidak perlu beribadah seperti ibadahku.

Ini merupakan  implementasi atau perwujudan toleransi yang sesungguhnya. Kita menghormati keyakinan dan ritual orang lain. Kalau kita memaksa orang-orang non Islam mengikuti ritual kita, berarti menyuruh mereka mengkhianati keimanannya. Karena itu, kita pun tidak akan pernah ikut beribadah dengan mereka, sebab ini merupakan pengkhianatan terhadap iman kita.

Kalau mereka meminta kita agar mengikuti ibadahnya dengan dalih toleransi antar umat beragama, ketahuilah ini merupakan racun keimanan yang harus kita tolak dengan tegas.

Ayat 6. Para pakar tafsir menyebutkan, kata lakum pada ayat ini mengandung makna “khusus untuk kamu”, sehingga ayat terakhir ini seakan-akan berpesan kepada mereka bahwa agama yang kalian anut itu khusus untuk kalian, dan agama yang aku anut khusus untukku. Karena itu, tidak perlu kita campuradukkan, kamu tidak perlu mengajak kami (umat Islam) untuk beribadah dengan caramu, dan kami pun tidak akan mengajakmu beribadah dengan cara kami.

Tafsir Nurul Qur’an Karangan Allamah Kamal Faqih Imani:

Mengenai sebab turunnya surah ini, hadits-hadits Islam mengungkapkannya. Surah ini diturunkan berkenaan dengan para pemimpin kamum musyrik dari suku Quraisy seperti Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, Harits bin Qays, Umayyah bin Khalaf dan lain-lain. Para petinggi musyrikin Quraisy itu berkata “hai Muhammad, ikutilah kepercayaan kami dan kami akan mengikuti kepercayaanmu dan kami akan membiarkanmu menikmati semua hak istimewamu. Selama setahun engkau harus menyembah tuhan-tuhan kami dan tahun berikutnya kami akan menyembah Tuhanmu. Jika kepercayaanmu lebih baik, kami akan bergabung dneganmu; dan jika kepercayaan kami lebih baik, engkau harus bergabung dengan kami.”

Rasulullah saw menjawab “Aku berlindung kepada Allah dan aku tidak melakukan sekutu apapun denganNya.”

Mereka berkata, “Engkau boleh menyentuh beberapa tuhan kami setidaknya dan mengambil suatu tanda dari mereka. Jika engkau melakukan ini, kami akan membenarkanmu dan menyembah Tuhanmu.”

Rasul saw berkata, “ Aku sedang menunggu perintah Tuhanku.”

Pada saat itulah surah ini diturunkan. Kemudian Rasulullah pergi ke Baitullah. Sejumlah ketua kabilah-kabilah Quraisy sedang berkumpul di sana. Beliau berdiri di suatu tempat lebih tinggi dari mereka dan membacakan surah ini sepenuhnya kepada mereka. Ketika mereka mendengar pesan surah ini, mereka menjadi putus asa akan tujuan mereka dan mulai menyakiti Nabi saw. (hlm. 376)

QS. Al-An’am : 108

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Tafsir Ibn Kasir Karangan Al-Imam Abdul Fida Ismail Ibn Kssir A-Dimasyqy:

Allah Swt berfirman, melarang Rasul-Nya dan orang-orang mukmin memaki sesembahan orang-orang musyrik, sekalipun dalam makian itu terkandung maslahat, hanya saja akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar daripada  itu. Kerusakan yang dimaksud ialah balasan makian yang dilakukan oleh orang-orang musyrik terhadap Tuhan kaum mukmin.

Abdur Razaq telah meriwayatkan dari Ma’mar dari Qtadah, bahwa dahulu orang-orang muslim sering mencaci maki berhala-berhala orang-orang kafir, maka orang-orang kafir balas mencaci maki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Maka turunlah ayat ini. (hlm. 472)

QS. Al-Baqarah : 256

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.

[162] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah SWT

Tafsir Al-Maraghi karangan Ahmad Musthafa Al-Maraghi:

Kata “ar-Rusydu” mengandung arti petunjuk dan semua kebaikan lawan dari kata “Al-Ghyayyu” yang mengandung arti sama dengan “Al-Jahlu”. Hanya, kata “Al-Ghayyu” menunjukkan arti yang bertaut dengan keyakinan (I’tikad), sedangkan kata “Ar-Rusydu” berkaitan dengan masalah kelakuan (perbuatan). Karenanya dikatakan, hilangnya kebodohan itu dengan ilmu, dan hilangnya “Al-Ghayyu” dengan “Ar-Rusydu”.

Kata “Adz-Zdulumat” berarti kesesatan-kesesatan yang melanda manusia dalam fase-fase kehidupannya, seperti bid’ah, hawa nafsu, yang keduanya dapat menghalangi manusia dalam menjalankan perintah-perintah agamanya. Kedua hal tersebut bila menguasai diri manusia, dapat menghalangi mereka dari pengertian agama yang sebenarnya.

Ayat ini turun pada saat Islam mulai kuat, yakni pada periode Madinah. Sebab turunnya ayat ini adalah seperti hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Jarir dari Ikrimah dari Ibn Abbas. Ada seorang lelaki dari kalangan Anshar yang dikenal dengan panggilan Hushain. Ia mempunyai 2 orang anak laki-laki, keduanya beragama nasrani, sedangkan ia sendiri beragama Islam. Hushain menanyakan kepada Nabi saw., “Apakah saya harus memaksa keduanya untuk masuk agama Isalam? Karena nyatanya keduanya tidak mau masuk agama selain Nasrani.,” kemudian turunlah ayat ini.

Dan dalam riwayat lain dikatakan bahwa Hushain memaksa anaknya untuk masuk Islam, hingga perkara ini mereka adukan kepada Rasulullah. Hushain mengemukakan argumentasinya “ wahai Rasulallah, apakah saya hanya diam saja menyaksikan sebagian dari kami masuk neraka?” Kemudian, turun ayat ini, hingga akhirnya Hushain melepaskan kedua anak lelakinya.

Tidak ada paksaan dalam memasuki agama, karena iman harus dibarengi dengan perasaan taat dan tunduk. Hal ini tentunya tidak  bisa terwujud dengan cara paksaan.

Ayat ini kiranya cukup sebagai hujjah di hadapan orang-orang yang sengaja memusuhi Islam, bahkan orang-orang Islam sendiri yang beranggapan bahwa Islam tidak bisa tegak melainkan dengan pedang dan kekerasan. Karena pada ayat ini telah dijelaskan bahwa Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk memaksakan kehendak, dan Islam memeintahkan umatnya untuk saling bertoleransi antar sesama agama dan umat beragama lainnya.

Tafsir Ibn Katsir karangan Al-Imam Abdul Fida Ismail Ibn Kssir A-Dimasyqy; Juz .hlm. 383:

Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ter-sebut menjelaskan: Janganlah memaksa seorangpun untuk masuk Islam. Islam adalah agama yang jelas dan gamblang tentang semua ajaran dan bukti kebenarannya, sehingga tidak perlu memaksakan seseorang untuk masuk ke dalamnya. Orang yang mendapat hidayah, terbuka, lapang dadanya, dan terang mata hatinya pasti ia akan masuk Islam dengan bukti yang kuat. Dan barangsiapa yang buta mata hatinya, tertutup penglihatan dan pendengarannya maka tidak layak baginya masuk Islam dengan paksaan.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan telah berkata bapakku dari Amr bin Auf, dari Syuraih, dari Abi Hilal, dari Asbaq ia berkata, “Aku dahulu adalah abid (hamba sahaya) Umar bin Khaththab dan beragama Nasrani. Umar menawarkan Islam kepadaku dan aku menolak. Lalu Umar berkata: laa ikraha fid din, wahai Asbaq jika anda masuk Islam kami dapat minta bantuanmu dalam urusan-urusan muslimin.

QS. Al-Mumtahanah : 8-9

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.”

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.”

Tafsir Al-Azhar. Karangan H. abdul Malik Abdul Karim Amrullah.hlm. 136:

Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, setelah terjadi perdamainan di antara Rasulullah saw, dengan kaum Quraisy setelah perjanjian Hudaybiyah ada orang-orang dari Makkah dating menemui keluarganya yang telah Hijrah ke Madinah di antaranya adalah Qutailah, bekas isteri Abu Bakar Shiddiq yang telah beliau ceraikan di zaman jahiliyyah. Ia dating ke Madinah karena rindu ingin bertemu dengan anaknya dan member hadiah. Tetapi Asma’ masih ragu untuk menerima hadiah dari ibunya itu, lalu ia dating bertanya kepada Rasulullah saw, maka turunlah ayat ini, bahwa tidak ada larangan berbuat baik dengan berlaku adil terhadap orang yang tidak memusuhi kamu dan tidak mengusir kamu dari negeri kamu. Niscaya tidaklah ibu Asam’ yang bernama Qutaylah itu tergolong orang yang turut mengusir Nabi dan memusuhi kaum muslimin. Hanya sekedar belum terbuka hatinya dengan hidayah Tuhan.

Ayat “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” di dalamnya terdapat kata “muqsithin” yang diartikan berlaku adil. Kata “qisth” mengandung arti yang luas, mencakup pergaulan hidup. Tegasnya jika kita berbaik dengan tetangga sesame Islam, maka dengan tetangga yang bukan Islam hendaklah kita berbuat baik juga. Nabi pernah melewati keluarga Yahudi yang anak lelakinya pernah bekerja menjadi pembantu di rumah Nabi saw, sedang anak itu sakit keras. Ketika anak itu dalamsekarat, dibujuk oleg Rasulullah agar mengikuti Islam sebagai agamanya. Ditengoknya mata ayahnya memohon kerelaan. Lalu ayahnya berkata: turutilah kehendak Abul Qasim itu anakku! Ucapkanlah dua kalimah syahadat! Maka anak itu pun mengucapkan dua kalimah syahadat, kemudian meningal dalam keadaan Islam.

Di sini, Rasulullah telah menunjukkan sikap beliau yang penuh kasih saying, sehingga ziarah beliau sangat besar pengaruhnya terhadap keluarga Yahudi itu.

Ahli-ahli mufassir mengatakan bahwa ayat ini berlaku untuk selama-lamanya dan tidak ada mansukh untuk ayat ini.

Tafsir Al-Ahkam. Karangan Syekh Abdul Ahlim Hasan Binjai.hlm. 588:

Para mufassir berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud dengan orang kafir yang tidak memerangi orang Islam yang disebut dalam ayat ini. Kebanyakan mereka menerangkan bahwa yang dimaksud ialah semua orang kafir yang telah membuat perjanjian kerja sama dengan pihak Islam, seperti kabilah Khaza’ah. Demikian menurut keterangan Ibn Abbas, Muqatil, dan Kalbi. Mujahid berkata, yang dimaksud ialah orang yang beriman yang masih tinggal di Makkah dan tidak turut hijrah bersama Rasulullah saw, ke Madinah. Sebagian ada pula yang mengatakan hanya khusus kepada perempuan dan anak-anak.

Abdullah bin Zubair berkata, ayat ini diturunkan kepada Asma binti Abu Bakar. Asma mengatakan, bahwa ibunya bernama Fatimah membawa barang-barang hadiah untuknya, sedangkan ibunya itu masih musyrik. Dia tidak menerima hadiah yang dibawa ibunya dan tidak pula mengizinkan ibunya masuk ke rumahnya. Rasulullah saw, memerintahkan kepadanya supaya dia menerima hadiah itu dan mengizinkan ibunya masuk ke rumahnya.

Al-Qurtubi menceritakan dari banyak ahli takwil berpendapat, ayat ini tetap muhkamat dan boleh berlaku baik kepada orang musyrik selama mereka itu tidak menunjukkan sikap permusuhan, meskipun telah putus hubungan pertalian dengan mereka.

Ayat 9 menjelaskan bahwa kafir semata-mata, tidaklah memutuskan oersahabatan antara orang Islam dengan orang kafir. Adapun yang memutuskan persahabatan itu ialah mereka yang memusuhi Islam dan membantu musuh-musuh Islam menghalangi dakwah, sebagaimana yang telah diterangkan dalam tafsir ayat-ayat lain.

Masyarakat Tamaddun, Kritik Hermeneutis Masyarakat Madani Nur Cholis Majid. Karangan  Sufyanto.hlm. 133

Ayat ini menerangkan tentang bagaimana seharusnya prinsip seorang muslim dalam memandang agama-agama lain dan pemeluknya. Ada  5 patokan yang terkandung dalam ayat di atas:

  1. Islam memberikan kebebasan dalam memilih dan menentukan keyakinan
  2. Harus menjauhkan sikap paksaan
  3. Islam memandang pemeluk-pemeluk agama lain terutama orang-orang keturunan ahli Kitab, mempunyai persamaan landasan aqidah, yaitu sama-sama memprcayai keEsaan Allah
  4. Islam mengulurkan tangan persahabatan terhadap pemeluk-pemeluk agama lain
  5. Pendekatan terhadap agama lain untuk meyakinkan mereka terhadap kebenaran ajaran Islam haruslah dilakukan dengan diskusi yang baik, sikap yang sporif dan elegan.

QS. Yunus : 99

“Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?”

Tafsir Adhwa’ul Bayan. Karangan Syaikh Asy-Syanqithi.hlm. 759:

Pada ayat yang ini Allah menjelaskan bahwa jika saja Allah ingin menjadikan penduduk bumi beriman semuanya, pastilah mereka beriman semuanya. Sedangkan ayat yang bercetak tebal di atas Allah menjelaskan bahwa orang yang tidak diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada petunjuk baginya. Tidak mungkin bagi seseorang untuk dipaksa hatinya menjadi lapang untuk menerima keimanan, kecuali dengan kehendak Allah.

Allah juga menjelaskan ayat-ayat yang semakna dengan ayat di atas, seperti firman-Nya “Barangsiapa yang Allah kehendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang dating) dari pada Allah” QS. Al-Maidah : 41.

QS. Asy-Syura’ : 15

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah[1343] sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah: “Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya Berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan Kami dan Tuhan kamu. bagi Kami amal-amal Kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara Kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)”.

[1343] Maksudnya: tetaplah dalam agama dan lanjutkanlah berdakwah.

Tafsir Al-Misbah. Karangan M. Quraish Shihab.hlm. 476

Ayat-ayat sebelumnya mengecam mereka yang berselisih dan berkelompok-kelompok dalam ajaran agama. Demi persatuan dan kesatuan, serta guna menghindari perpecahan itu, maka ayat di atas menyatakan “ Maka karena itu”, karena wahyu yang memesankan persatuan itu, maka serulah yakni tetap dan tingkatkanlah seruanmu kepada manusia seluruhnya untuk bersatu dan beristiqamahlah yakni konsisten melaksanakan ajaran agama sebagaimana diperintahkan kepadamu oleh Allah swt. Dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dalam hal apapun, dan katakanlah kepada semua pihak: “Aku beriman menyangkut apa yang diturunkan Allah dalam kitab suci-Nya, tidak membedakan satu rasul penerima kitab dengan rasul-rasul yang lain dan aku diperintahkan juga supaya berlaku adil di antara yakni di tengah-tengah kamu semua. Allah-lah Tuhan yang menciptakan serta mengatur dan mengendalikan urusan kami dan juga Dia yang demikian itu sifat-Nya adalah Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami, kami yang akan mempertanggungjawabkannya bukan kamu dan bagi kamu juga amal-amal kamu. Kita telah mengatahui sikap masing-masing dan kebenaran pun sudah demikian jelas sehingga tidak ada dan tidak perlu lagi ada perdebatan antara kami dan kamu, Allah akan mengumpulkan antara kita kelak di hari Kemudian lalu memutuskan perbedaan kita, dan kepada-Nya saja tempat kembali- bukan kepada selain-Nya. Bahkan kepada-Nya saja segala persoalan akan dikembalikan.

Kata “Ahwa” adalah bentuk jmak dari kata “hawa” yakni “kecenderungan hati kepada sesuatu yang baiasanya tidak bermanfaat bahkn tidak jarang merupakan pelanggaran.” Larangan mengikuti hawa nafsu mereka itu berarti larangan meniru sikap dan amal-amal buruk mereka. Larangan ini walaupun secara redaksional ditujukan kepada Nabi  Muhammad saw, tetapi yang dimaksud adalah umat beliau. Bisa juga larangan itu berarti jangan sampai sikap buruk mereka mengundang kamu mencaci kitab suci mereka dan jangan juga tidak member penghormatan yang layak bagi nabi-nabi mereka.

Thabathaba’I memahami kalimat “Laa hujjata bainana wa bainakum/ tidak ada perdebatan antara kami dan kamu”, dalam arti tidak perlu ada permusuhan antara kita karena Tuhan kamu dan Tuhan kami sama, dan kita semua adalah hamba-hamba-Nya, sehingga kita tidak perlu bertengkar.

9 responses »

  1. assalamua’alaikum, smga saudara dlm ke’ada’n sht wal’afiah.
    Yg ingn sy tnyakn, bgaimn jka org brtnya mngenai ayat d atas, ykni dlm surah Yunus tsb, jkalau ia brtnya, brrti Allah mnaqdirkn mrka sbgai org kfir.
    Trma ksh ats jwbnny.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s