Cara Efektif Mengajarkan Baik dan Buruk Terhadap Anak

Standard

ini adalah sebuah kisah nyata:

Waktu Ambrose Robinson mengetahui bahwa putranya yang baru berusia 10 tahun telah mencuri sekotak permen permen dari sebuah took swalayan, ia menyuruhnya mengembalikan permen itu ke took dan meminta maaf kepada penjaga took dan kepada para pelanggan yang ada disitu. Sesudah memberi maaf, penanggung jawab toko itu ingin memberikan permen tadi kembali kepada David, tetapi sang ayah melarang. “Dia tidak boleh menerimanya,” katanya, “ini bukan permennya.” Ia membawa David dan adiknya pulang, lalu menghukum keduanya; David karena perbuatan buruk yang telah dilakukan dan adiknya karena ikut melakukan perbuatan tersebut.

Dua puluh tahun kemudian, David Robinson menjadi pemain terbaik NBA tahun 1995, pemain piano musik klasik, pakar computer, dan aktivis dalam kegiatan kemasyarakatan, dia bercerita “Saya tidak akan pernah melupakan perasaan waktu harus berdiri di depan umum dan diperkenalkan sebagai seorang pencururi. Peristiwa itu menginggalkan kesan mendalam pada diri saya. Itu cara ayah saya untuk menunjukkan kepada saya jenis orang seperti apa yang tidak saya kehendaki. Sesudah itu, saya tak mau lagi mencuri.”

Kisah nyata di atas diceritakan kembali oleh David Robinson dalam kata pengantar buku karya orangtuanya, How to Raise an MVP (Most Valuable Person). David Robinson, seperti orang tuanya, percaya bahwa mengajarkan perbedaan antara baik dan buruk kepada anak-anak lebih efektif dalam keluarga yang orangtuanya keras dibandingkan dalam keluarga yang orangtuanya permisif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s