Pria Dalam Hujan

Standard

15 April 2010

Hari ini hujan lagi, sudah tiga hari ini hujan seakan-akan engan untuk tidak mengguyur bumi. Aku jadi malas kemana-kemana. Hanya mendekam dalam kamar sambil memandangi hujan lewat cendela kmar. Ditemani pisang goreng hangat dan teh panas. Kusetel lagu-lagu sendu dari list musik komputerq. Tampa memilih lagu apa. Pokoknya terdengar enak aja.

Mmmhhh… ada sesuatu yang menarik hari ini. Kulihat dari kejauhan ada seseorang berlari dalam hujan. Diya berteduh di bawah pohon yang dekat dengan beranda cendela rumahku. Kira-kira berjarak sekitar lima meter. Aku hanya dapat melihat wajahnya yang tekena air hujan dari samping. Berambut lurus, dan mempunyai rahang yang kuat, dengan di pertegas oleh hidungnya yang mancung. Terlihat bibirnya terkatup rapat karena kedinginan. Indah… aku terus memandanginya, sambil tertawa-tawa sendiri. Lucu melihatnya kedinginan. Dia hanya memakai kaos tipis warna kuning yang tampak cerah dengan kulitnya yang putih. Dia melipatkan tangannya di dadanya seraya memandangi hujan yang sedang tidak bersahabat dengannya. Sesekali dia duduk untuk menghilangkan rasa capek yang memang dari tadi dia berdiri mematung.

Hujan terus saja tak mau berhenti, sepertinya semakin lama semakin deras saja. Aku jadi kasian sama orang dalam hujan itu. Kulihat payung biru bergantung diding kamarku. Walaupun agak malas, Tampa pikir panjang, ku berlari keluar untuk meminjamkan payungku kepadanya. ada sesuatu yang menarik hari ini. terdengar melody indah dari dalam diri yang sulit terucap.

Dadaku berdegup kencang ketika kulihat wajahnya dari dekat, sekarang bibirnya membiru karena kedinginan, kulitnya yang putih menjadi pucat. Kasihan sekali. Kataku dalam hati. Ketika kuberada di depannya, wajahnya yang pertama tertunduk spontan menoleh kepadaku, terlihat dia agak kebingungan. Tanpa banyak basa-basi ku julurkan payungku kepadanya.

“ini mas” kataku.

Dia hanya memandangiku tanpa kata. Mungkin dia berfikir, “nih orang siapa, kok tiba-tiba ngasihkan payung? kenal aja tidak.” Dan kulanjutkan kata-kataku.

“kamu bisa memakai payung ini, aku tinggal disitu” kataku sambil menunjuk rumah kos-kosan warna pink.

“dan…kamu bisa mengembalikannya kapan saja”. lanjutku

“mmmhhh…..okaye…” katanya sambil mengangukkan kepalanya. “trimakasih banget ya mb’?” sambungnya.

“Oh..ya…sama-sama….”

“eehhh….Mari mas aku masuk dulu…..” lanjutku berpamitan.

“ya..” katanya dengan senyuman yang sangat manis.

Aku kembali ke kamar. Sepintas bayangan wajahnya terlintas, aku tersenyum-senyum sendiri sambil ku berkata dalam hati “mmmhhhh…. cakep juga, kalau aku pikir-pikir sih.. dia mirip Jung Il Woo di film My Fair Lady yang menjadi orang ke tiganya.” Ahh…. ku pukul jidatku sendiri. Jadi mikirin yang ngak-ngak. Hihihi…

17 April 2010

Hari ini. hari yang melelahkan, setelah menunggu dosen 1 setengah jam di gedung pasca sarjana, akhirnya dosenku nongol juga, dia baru turun dari mobil, aku siap-siap untuk minta acc skripsiku. Setelah masuk ruangan ku ,serahkan sekripsiku yang dari tadi aku pegangi. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun dosenku langsung menandatangani. Setelah itu keluar, dan pulang ke kos. Akhirnya selesai juga. Alhamdulillah…..

Sesampainya di kos, teman kosku bilang “fie, nih.. tadi ada cowok nitipin untuk kamu” seraya menyodorkan payung dan lipatan kertas kecil.

“oh…makasih yach..” katau sambil tersenyum.

“ciye….ciye…. siapa nech….. cowok mu yach…. lumayan..paling tidak ngak malu-maluin buat jalan-jalan hahahahaha…” kata temenku seraya pegi sambil nyengir nakal dan membentuk kedua tangannya menjadi bentuk huruf V.

Aku hanya tertawa melihat tingkahnya, setelah itu aku masuk kamar. Kuletakkan payung itu di tempatnya semula. Dan ku buka lipatan kertas kecil tadi, yang hanya berisi ungkapan singkat.

“Syukron Katsiron…. Jazakallahu Khairul Jaza”

“amiiiin…” kataku lirih.

Mmmmmhhhhhheeeehhhh………..kutarik nafas panjang. Aku tersenyum simpul, kuletakkan kertas itu di meja belajar. Setelah ganti pakaian santai. Ku ambil buku bacaan untuk membunuh rasa sepiku. ku hidupkan koputerq dan ku setel lagunya utopia (Hujan). kududuk bersandar di atas kursi, Sekilas ku lemparkan pandangannku keluar cendela, sepontan bibir ini tersenyum. Dalam hati ku berkata “Seandainya aku lihat dia lagi”.

Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu

Segala seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak ’kan berubah

Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri

Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air

Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku

2 responses »

  1. “Al-muhibb man yabdzulu laka wa la yathlubu minka” : (kekasih sejati adalah orang yang rela berkorban untukmu, bukan mengharap/ meminta sesuatu darimu?

    • yups!! i setuju bgt, seprti kta kahlil yang mengatakan “cinta adalah apa yang menarik bagi jiwa, kepadanya cinta diberikan bukan diminta…”
      heheheehe… q kira ini sama azza mknanya hanya beda pengungkapan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s